Apa itu Gig Economy? Peluang Bisnis Sampingan di Era Digital - iSeller Blog

Apa itu Gig Economy? Peluang Bisnis Sampingan di Era Digital

inden artinya

Isu gig economy kembali menjadi sorotan publik seiring munculnya wacana work from mall untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menjelaskan bahwa kebijakan ini bertujuan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah dinamika global.

Di balik wacana tersebut, gig economy sebenarnya bukan fenomena baru. Gig  economy sudah terjadi di sekitar kita, terutama bagi generasi muda dan individu yang ingin memiliki sumber penghasilan tambahan atau bisnis sampingan.

Lantas, apa sebenarnya gig economy itu? pekerjaan apa saja yang termasuk di dalamnya? dan yang tak kalah penting, bagaimana cara memaksimalkan potensi gig economy?

Mari kita bahas lebih dalam pada artikel ini:

Apa Itu Gig Economy?

Menurut BBC, Gig Economy adalah sistem pasar tenaga kerja yang didominasi oleh pekerjaan berbasis kontrak jangka pendek atau pekerja lepas (freelancer), bukan karyawan tetap.

Dari sudut pandang lain, gig economy juga kerap diartikan sebagai lingkungan kerja yang fleksibel dalam hal waktu dan tempat, namun minim perlindungan kerja seperti jaminan kesehatan, tunjangan, atau kepastian pendapatan. 

Dari definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa gig economy adalah sistem kerja di mana perusahaan atau individu lebih memilih merekrut pekerja independen untuk proyek atau durasi tertentu, bukan hubungan kerja jangka panjang.

BACA JUGA: “Ini Tanda Kamu Ada di Pekerjaan yang Tepat

Daftar Pekerjaan yang Masuk dalam Gig Economy

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Mei 2019, jumlah pekerja lepas di Indonesia mencapai sekitar 5,89 juta orang.

Berikut beberapa bidang pekerjaan yang umum berkembang dalam ekosistem gig economy:

1. Teknologi Informasi (IT): 

  • Network analyst
  • Information security engineer

2. Penulisan & Kreatif

  • Content writer
  • Copywriter
  • UX copywriter
  • Resume writer

3. Akuntansi & Keuangan

  • Akuntan lepas
  • Accounting assistant

4. Administratif

  • Virtual assistant
  • Design administrative assistant

5. Pendidikan

  • Guru privat
  • Tutor online
  • Dosen tidak tetap

6. Software Development

  • Game engineer
  • UI/UX designer
  • DevOps engineer

7. Project Management

  • Project manager
  • Office manager

Selain dari list pekerjaan sebelumnya, gig economy juga berkembang pesat di sektor desain grafis, event & wedding organizer, advertising, kuliner rumahan dan UMKM digital. 

Karakteristik dari Gig Economy

Untuk membedakan gig economy dari sistem kerja tradisional, berikut karakteristik utama yang bisa Anda ketahui:

1. Berbasis Platform Digital

Sebagian besar pekerja gig terhubung melalui aplikasi atau website, seperti marketplace, aplikasi transportasi, media sosial, atau platform penjualan online. Teknologi menjadi jembatan utama antara pekerja dan konsumen.

2. Fleksibilitas Waktu dan Tempat

Pekerja gig memiliki kendali atas jam kerja mereka. Tidak ada kewajiban bekerja 9–5, sehingga cocok bagi mahasiswa, ibu rumah tangga, atau karyawan yang menjalani side hustle.

3. Status Independen

Pekerja gig bukan karyawan tetap. Mereka bekerja sebagai mitra atau individu independen, yang berarti perlu mengatur sendiri seperti, keuangan, pajak, asuransi, dan operasional bisnis.

Mengapa Gig Economy Makin Populer?

Popularitas gig economy tidak muncul tanpa alasan. Beberapa faktor utama yang mendorong pertumbuhannya antara lain kebutuhan finansial tambahan akibat meningkatnya biaya hidup, keinginan akan fleksibilitas kerja, serta kemajuan teknologi digital.

Bagi banyak anak muda, gig economy juga selaras dengan kultur kemandirian. Mereka ingin menjadi “bos bagi diri sendiri”, mengejar proyek sesuai minat, dan tidak bergantung pada satu sumber penghasilan. Pandemi Covid-19 turut mempercepat tren ini, memaksa banyak orang untuk mencari alternatif penghasilan di luar pekerjaan utama.

Keuntungan Gig Economy bagi Pekerja dan Pelaku Usaha

Bagi Individu/Pekerja Gig

  • Fleksibel mengatur jadwal
  • Bisa dijadikan side hustle
  • Bisa bekerja dari mana saja

Bagi Pelaku Usaha atau Brand Kecil

  • Operasional lebih ringan
  • Bisa menyesuaikan skala bisnis
  • Mudah menjangkau pasar digital

Namun, fleksibilitas ini perlu diimbangi dengan sistem bisnis yang rapi dan terkontrol terutama bagi individu yang menjalankan usaha sampingan.

BACA JUGA: “Cara Meningkatkan Produktivitas Kerja Karyawan, Ini 5 Tipsnya!

Apa yang Dibutuhkan untuk Menopang Gig Economy di Indonesia?

Untuk mendukung perkembangan gig economy yang sehat dan berkelanjutan, diperlukan kolaborasi dari berbagai pihak. Berikut beberapa aspek penting yang perlu diperkuat:

1. Pendidikan kewirausahaan sejak dini

Sekolah dan kampus memiliki peran penting dalam membekali generasi muda dengan keterampilan praktis. Pemahaman tentang manajemen waktu, pengelolaan keuangan, personal branding, hingga dasar perpajakan membantu mahasiswa dan pekerja muda memandang gig economy bukan sekadar pekerjaan sementara, melainkan peluang karier dan bisnis yang bisa dikelola secara profesional.

2. Regulasi yang melindungi pekerja gig

Fleksibilitas kerja perlu diimbangi dengan perlindungan yang memadai. Pemerintah dapat berperan melalui kebijakan yang menjamin akses terhadap perlindungan sosial, jaminan kesehatan, serta aturan yang lebih jelas terkait hubungan kerja dan sistem upah, tanpa menghilangkan karakter fleksibel gig economy.

3. Platform digital yang etis dan transparan

Sebagai penggerak utama gig economy, platform digital perlu menjunjung prinsip keadilan dan transparansi. Sistem pembayaran yang jelas, pembagian komisi yang adil, serta perlindungan data pengguna menjadi kunci dalam membangun kepercayaan dan keberlanjutan ekosistem gig economy.

Dengan dukungan dari pendidikan, regulasi, dan platform yang bertanggung jawab, gig economy dapat berkembang sebagai ekosistem kerja dan bisnis yang lebih aman, inklusif, dan berkelanjutan di era digital.

Strategi Menghadapi Gig Economy Secara Berkelanjutan

Agar sukses di ekosistem gig economy, berikut strategi yang bisa Anda terapkan:

  1. Diversifikasi Sumber Pendapatan. Jangan bergantung pada satu klien atau platform saja.
  2. Terus Mengembangkan Keterampilan. Skill adalah aset utama dalam pasar gig economy yang kompetitif.
  3. Manajemen Keuangan yang Bijak. Pisahkan keuangan pribadi dan bisnis, siapkan dana darurat, dan kelola pajak dengan baik.
  4. Bangun Sistem Bisnis Sejak Awal. Gunakan tools seperti iSeller agar operasional bisnis sampingan tetap rapi, meski dijalankan secara fleksibel.
  5. Pahami Hak dan Regulasi. Pahami kontrak kerja, pajak, dan perlindungan hukum sebagai pekerja atau pelaku usaha mandiri.

Kesimpulan

Gig economy bukan sekadar tren sementara, melainkan bagian dari transformasi dunia kerja dan bisnis di era digital. Fleksibilitas yang ditawarkan membuka peluang besar bagi individu untuk membangun karier dan bisnis sesuai gaya hidup mereka.

Disinilah iSeller menjadi solusi yang relevan bagi pelaku gig economy. iSeller membantu individu yang menjalankan bisnis sampingan untuk mengelola operasional secara lebih terstruktur, tanpa menghilangkan fleksibilitas kerja.

Melalui satu sistem terintegrasi, transaksi dapat tercatat otomatis, pesanan dari berbagai channel bisa dikelola lebih rapi, dan performa bisnis dapat dipantau secara real-time. Bagi pekerja gig yang membagi waktu antara proyek dan usaha pribadi, efisiensi ini menjadi sangat krusial.

COBA GRATIS kemudahan kelola bisnis dengan iSeller!

Leave a Reply

Discover more from iSeller Blog

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading